web 2.0

Senin, 09 Maret 2009

Menghadapi Siswa Generasi Platinum

Oleh: Saiful Anwar, Guru SDN Sukapura 1, Probolinggo

Menapaki 2009, dunia pendidikan dihadapkan pada tantangan yang kian variatif dan kompleks. Salah satunya, tantangan kreativitas mendidik dan mengajar dengan hadirnya generasi platinum di kelas-kelas awal SD.

Generasi platinum adalah label yang diberikan para ahli pendidikan untuk anak yang lahir setelah 2000 (sekarang berusia 7-9 tahun, kelas 1-3 SD). Mereka memiliki karakteristik lebih ekspresif dan eksploratif dibandingkan generasi sebelumnya pada usia yang sama. Sebab, siswa generasi platinum memiliki akses informasi sangat luas, fasilitas hidup lebih lengkap, dan masyarakat teknologi informasi yang lebih terbuka (Alzena Masykouri: Jawa Pos 15/1/2008).

Hasil penelitian bertajuk Kids and Consumer Electronics Trends III 2007 juga menyimpulkan, anak-anak mulai berinteraksi dengan televisi, komputer, dan peralatan elektronik lain pada usia 7 tahun. Bahkan, ada yang mulai memakai perangkat tersebut pada usia 4 dan 5 tahun.

Bagi pendidik, kehadiran siswa generasi platinum memunculkan tantangan kreativitas khusus untuk menyelenggarakan pembelajaran sesuai karakteristik mereka. Guru harus menanggalkan paradigma bahwa dirinya satu-satunya sumber belajar bagi siswa. Siswa generasi platinum jangan dianggap anak kecil yang tidak tahu atau tidak bisa apa-apa. Sebab, mereka aktif belajar mencari pengetahuan atau jawaban dari berbagai sumber belajar.

Namun, mereka bukan tidak punya kekurangan.Kekurangan yang cukup menonjol, antara lain, minimnya kecakapan hidup (life skill), seperti berempati, bersosialisasi, dan pemecahan masalah (problem solving) dalam situasi nyata sehari-hari. Sikap dan perilaku mereka juga sering tidak sesuai dengan etika di masyarakat. Itu disebabkan banyaknya informasi dari media cetak dan elektronik yang menyesatkan dan tidak sesuai untuk usia mereka.

Bertolak dari keunggulan dan kelemahan tersebut, guru perlu memahami dan melakukan hal-hal berikut.

Mendidik dengan kasih sayang. Kemampuan intelektual (IQ) siswa yang relatif tinggi dan kurangnya komunikasi personal di keluarga menjadikan tingkat emosional (EQ) mereka labil. Kasih sayang tulus guru akan sangat menentukan keberhasilan pembelajaran.

Multimedia, metode, dan model pembelajaran. Penggunaan berbagai media pembelajaran akan menjadikan siswa lebih aktif dan kreatif mengikuti kegiatan belajar. Media elektronik yang dipadukan dengan media konvensional dari alam akan menarik minat siswa. Metode pembelajaran juga diusahakan bervariasi. Selain ceramah dan tanya jawab, perlu diusahakan metode diskusi sederhana, wawancara, demonstrasi, dan eksperimen. Model-model pembelajaran yang disarankan para ahli (mulai model interaksi sosial, modifikasi tingkah laku, berpikir kreatif, hingga quantum teaching) juga perlu kita coba setelah disesuaikan dengan kondisi sekolah.

Siswa sebagai mitra belajar. Kemampuan siswa mendapatkan informasi dari berbagai sumber menjadikan guru bukan satu-satunya sumber belajar siswa. Bisa jadi siswa mengetahui informasi baru lebih dahulu daripada guru. Dengan demikian, guru harus memosisikan diri sebagai fasilitator dan siswa sebagai mitra belajar. Selanjutnya, guru dan siswa sama-sama belajar.

Program kecakapan hidup dan pemecahan masalah. Interaksi langsung siswa dengan lingkungan alam dan sosial di sekitarnya sangat kurang. Sebab, waktu mereka banyak terpakai di depan perangkat elektronik, seperti televisi, video game, monitor komputer. Hal tersebut menjadikan mereka kurang memiliki life skill dan sulit memecahkan masalah sehari-hari. Untuk itu, guru perlu secara berkala melaksanakan program kecakapan hidup dan pemecahan masalah nyata, seperti kegiatan berkebun (agro), kemah pendidikan, lomba keterampilan, eksplorasi alam (out bound).

Bimbingan Religi. Keberhasilan hidup seseorang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan intelektual (IQ), tetapi juga kemampuan mengendalikan emosi (EQ) dan kecakapan spiritual keagamaan (SQ). Siswa generasi platinum harus dibekali tiga unsur tersebut agar proses pendewasaan mereka berjalan seimbang dan selalu berada pada rel kebenaran. (soe)

Sumber: Jawa Pos, Senin, 09 Maret 2009

Minggu, 08 Maret 2009

Bisa Menjadi Kawan Sekaligus Lawan

Oleh Muhammad Rozi, Guru komputer SMPN 1 Sidayu, Gresik

Internet adalah sarana informasi dan komunikasi yang tidak mungkin dipisahkan dari pelajar yang telah mengenalnya. Sebab, menambah wawasan di internet lebih menyenangkan daripada harus mencari buku di perpustakaan sekolah, yang belum tentu lengkap.

Orang tua mungkin juga bangga jika anaknya mengenal internet di sekolah. Mereka mengira pengetahuan anak pasti berkembang pesat dengan masuknya internet di lingkungan pendidikan sang anak.

Tapi, pahamkah orang tua tentang bahaya internet dan bagaimana menghindarkan anak dari bahaya penggunaan internet? Apakah lembaga pendidikan yang menyediakan fasilitas internet telah memberikan pengamanan terbaik? Mampukah petugas internet di lembaga pendidikan mengimbangi kemampuan siswa yang kian berkembang?

Internet sangat bermanfaat jika kita menggunakannya di jalur yang benar. Sebab, internet bisa menjadi teman sekaligus guru. Di internet, kita dapat menemukan semua solusi dari pertanyaan yang tak terjawab. Semua hal dikupas secara detail dari berbagai sumber dan rasanya tidak ada yang terlewat. Namun, sumber yang ada belum tentu benar. Bila kita mencerna mentah-mentah semua pengetahuan dari internet, kesesatan yang akan kita temui.

Pertanyaannya, apa yang harus kita lakukan? Dasar agama dan pendampingan yang benar diharapkan bisa menghadang dampak negatif internet.

Banyak sekali penyimpangan yang mungkin dilakukan pengguna internet, khususnya pelajar. Misalnya, di sela mencari materi di internet, hampir bisa dipastikan mereka juga sibuk refreshing, yakni main game, chatting, atau malah berkunjung ke situs porno. Main game terlalu lama jelas membuang waktu belajar siswa. Sama halnya dengan chatting dengan orang-orang yang kebanyakan tidak mereka kenal dan tidak selalu jujur.

Bagi kebanyakan siswa, internet bukan lagi wahana untuk meningkatkan pengetahuan. Internet hanya ajang hiburan, termasuk hiburan berbahaya semacam situs-situs porno.

Tapi, siapa yang mampu mencegah hal itu? Pemerintah? Masyarakat? Orang tua? Sepertinya, semua unsur harus bersatu. Pemerintah harus memblokir situs-situs terlarang secara maksimal, juga mengeluarkan peraturan agar tiap penyedia layanan internet memasang program atau software antipornografi. Harus ada pula putugas yang rutin memantau apakah program-program antiporno tersebut benar-benar telah dipasang di tempat yang menyediakan fasilitas internet.

Setelah semua itu dilakukan pun, bukan berarti kemungkinan penyimpangan telah teratasi. Masih ada komputer rumah, HP, atau fasilitas lain yang juga bisa dimanfaatkan untuk menikmati internet. Di sini, peran orang tua sangat vital. Komputer yang memiliki fasilitas internet hendaknya diletakkan di tempat terbuka, bukan kamar anak, untuk memudahkan pengawasan.

HP anak juga perlu diperiksa, ada layanan internet atau tidak. Jika orang tua merasa tidak mampu mengawasi, sebaiknya tak memberikan HP yang dilengkapi fasilitas multimedia. Sebab, video porno bisa diterima melalui kiriman orang lain atau transfer bluetooth.

Perlu juga diawasi dengan siapa anak berteman, di mana dia biasa berkumpul dengan teman-temannya. Jika anak pernah minta izin ke warnet, sesekali temani. Bila dia berkeras menolak ditemani, jangan pernah izinkan ke warmet, sekalipun beralasan malu kepada teman dan sebagainya. Sebab, menolak ditemani adalah awal penyimpangan.

Penanganan pornografi yang sering digembar-gemborkan itu hanya omong kosong jika pihak-pihak yang mestinya mengawasi ternyata juga mengonsumsi sajian porno tersebut.

Jika kita merasa kehadiran internet tidak mungkin dihindari dan penataan teknologi tidak mungkin dilakukan, yang harus ditata adalah manusianya. Tanamkan sikap moral kepada anak-anak tanpa pernah jemu. Berikan perhatian istimewa kepada mereka. Pantau pergaulan mereka. Pilih lembaga pendidikan yang tak hanya memberikan pendidikan dunia.

Masyarakat Indonesia pernah makmur dalam kegaptekan. Pelajar Indonesia cerdas dengan keterbatasan fasilitas. Makanan kita lebih sehat dengan bumbu alami. Hamparan pulau lebih hijau. Udara pun lebih segar. Sepertinya, kita harus sedikit demi sedikit menomorduakan teknologi, termasuk internet. (soe)

Sumber: Jawapos, Rabu, 04 Maret 2009

Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui Tugas Membuat Lembar TTS

Oleh: Ummu Khurriyah SPd, SMP YPM 2 Sukodono, Sidoarjo

MASALAH
yang menjadi pusat perhatian penulis adalah rendahnya hasil belajar siswa. Fenomena ini menimbulkan keprihatinan guru dan perlu segera dipecahkan. Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan hasil belajar.

Kegiatan ini dilakukan di SMP YPM 2 Sukodono, Sidoarjo, kelas I untuk mata pelajaran ekonomi. Waktu kegiatan lebih kurang dua bulan, dalam semester 1 tahun pelajaran 2008-2009.

Tindakan yang dilakukan pada kegiatan ini adalah memberikan tugas membuat kesimpulan istilah-istilah penting yang dituangkan di lembar TTS (teka-teki silang) pada setiap akhir pelajaran. Setelah selesai, di antara siswa bisa saling tukar karya TTS-nya untuk dijawab.

Setelah diisi dengan benar disalin ke kertas berwarna dan dipajang di dinding kelas. Dengan metode ini, penulis bisa memotivasi peserta didik untuk melihat sekaligus menghafal istilah penting atau inti dari materi pelajaran.

Hasil kegiatan itu menunjukkan, dengan pemberian tugas membuat kesimpulan istilah-istilah penting atau inti materi yang dituangkan di lembar TTS, hasil belajar peserta didik rata-rata meningkat dari 6,42 menjadi 7,26. (ruk)

Sumber: Jawapos, Rabu, 04 Maret 2009

Perkaya Pengajaran lewat Internet

Oleh: Yannik Herawati, Pengajar di Singapore National Academy, Sidoarjo

Internet telah menjadi tren yang tumbuh bagai jamur di musim hujan beberapa tahun ini. Orang-orang dari berbagai kalangan dan tingkat usia yang berbeda keranjingan browsing di dunia maya tersebut.

Internet bagaikan dua sisi mata uang. Ia tidak hanya berdampak positif, tapi juga negatif. Dampak positif internet adalah terbuka luasnya sumber informasi dan hiburan. Dampak negatifnya, contohnya, tersebarnya gambar porno dan informasi yang tidak jelas kebenarannya.

Dunia pendidikan tidak bisa dilepaskan dari fenomena internet. Sebab, pendidikan seharusnya bersifat responsif terhadap perkembangan zaman. Ada beberapa alasan yang melatari pentingnya memanfaatkan internet dalam dunia pendidikan, khususnya pengajaran bahasa Inggris. Misalnya, tersedianya informasi pengajaran bahasa inovatif yang tak terbatas, juga bahan-bahan pengajaran terbaru. Ada pula ratusan rencana pembelajaran dari guru-guru di berbagai belahan dunia, yang dapat memberikan inspirasi kreatif bagi perkembangan teknik mengajar.

Selain itu, ada ribuan topik pendidikan yang dapat membuka mata hati dan wawasan pengajar. Alasan lain yang mendasar adalah kemudahan dan kecepatan dalam mendapatkan hal-hal tersebut dengan hanya menggunakan jemari.

Para guru dapat melakukan banyak kegiatan yang menunjang pengembangan kemampuan mengajar mereka. Kegiatan pertama yang dapat dilakukan adalah berkomunikasi dengan siswa dan rekan pegajar lain melalui e-mail, friendster, facebook, atau mailing list. Komunikasi ini dapat berupa pengiriman bahan-bahan pelajaran atau tugas sekolah, pertukaran ide, atau berbagi pengalaman dalam bahasa Inggris melalui surat elektronik (e-mail).

Kegiatan kedua adalah mengirimkan ide atau karya melalui sejumlah website pengajaran bahasa Inggris. Guru dapat menyumbangkan ide mereka tentang pengajaran bahasa Inggris yang berhasil mereka aplikasikan di kelas.

Internet juga membuka kesempatan untuk menampilkan hasil karya para guru dan siswanya. Salah satu website yang menampung hal itu adalah www.teachertube.com.

Kegiatan ketiga adalah mendapatkan bahan pengajaran yang membantu mereka dalam proses belajar mengajar di sekolah. Bahan-bahan tersebut dapat berupa flashcards, lembar latihan, bacaan, film, permainan edukatif, dan lagu-lagu yang dapat membuat pengajaran lebih berwarna dan tidak membosankan.

Kegiatan keempat adalah mendapatkan informasi yang berkaitan dengan pendidikan. Ini dapat membuka wawasan pengajar tentang apa yang terjadi dalam dunia pendidikan dari berbagai belahan dunia.

Tidak hanya guru, siswa juga berkesempatan melakukan kegiatan positif melalui internet. Misalnya, siswa bisa bekomunikasi dengan guru dan teman-temannya melalui e-mail atau mailing list, yang memungkinkan mereka meggunakan bahasa Inggris dalam bahasa tulis. Siswa juga bisa berkreasi menciptakan koran atau komik hasil karya mereka melalui beberapa website, salah satunya www.crayon.net.

Belajar bahasa Inggris secara online juga membantu siswa meningkatkan kualitas bahasa mereka dengan cara yang menyenangkan. Mereka dapat belajar melalui permainan edukatif yang merangsang ketertarikan belajar bahasa. Internet juga memungkinkan mereka mendapatkan bahan otentik seperti film, lagu, dan koran, yang sebenarnya ditujukan untuk penutur asli bahasa Inggris. Mereka berkesempatan belajar budaya dan penggunaan bahasa Inggris secara natural.

Mari kita berkreasi dan meningkatkan kemampuan mengajar bahasa Inggris kita dengan memanfaatkan teknologi internet. Teknologi ini bisa menjadi gerbang perkembangan kualitas guru sepanjang kita bijaksana memanfaatkannya. (soe)

Sumber: Jawapos, Rabu, 04 Maret 2009

Mengajar Bahasa Inggris di Kelas Besar

Oleh: M. Malzumul Khair SPd, Guru SMAN 1 Gapura, Sumenep

KELAS efektif untuk pembelajaran bahasa asing maksimal berisi 20 siswa. Sedangkan kelas di sekolah-sekolah di sini rata-rata berisi 40 siswa. Karena itu, guru harus mengatasi dua kali lipat siswa.

Ada beberapa ide pembelajaran bahasa Inggris untuk kelas besar yang didapat penulis dari berbagai workshop pengajaran. Tapi, sebelum menerapkannya, lebih dulu motivasi siswa harus ditumbuhkan. Sebab, kebanyakan siswa tidak percaya diri ketika harus berbahasa asing.

Pertama, guru harus mengobservasi siswa, kemampuannya, gaya belajarnya, dan karakternya. Kedua, membangun hubungan baik dengan siswa untuk menciptakan suasana belajar yang nyaman serta mendorong siswa mengungkapkan kesulitan dan kemampuannya.

Ketiga, bahasa Inggris dianggap sulit oleh kebanyakan siswa. Guru jangan menuntut terlalu tinggi. Sebaliknya, tumbuhkan motivasi positif ketika siswa mampu belajar sedikit dari yang diberikan guru. Hargailah sesedikit apa pun yang bisa dilakukan siswa. Kemampuan bahasa butuh proses. Guru dan siswa harus punya kepercayaan diri untuk itu.

Keempat, guru yang termotivasi selalu memikirkan cara baru untuk meningkatkan pembelajaran dan memecahkan masalah. Dengan demikian, dia selalu punya hal baru untuk diberikan kepada siswa pada setiap meeting. Itu akan membuat siswa selalu menunggu apa hal baru hari ini.

Berikut ini beberapa ide yang bisa dipakai dalam kelas besar.

Quescussion (question and discussion). Aktivitas ini membuat siswa berpendapat sekaligus melatih membuat kalimat tanya (menjawab pertanyaan jauh lebih mudah daripada membuat pertanyaan). Caranya, guru menulis pertanyaan di papan. Misalnya, Where will we go for the next vacation? Siswa menanggapi dengan pertanyaan juga. Misalnya, How about going to Bali? What do you think if we go to Jogja? Is it a good idea to go to Bandung?

Siswa lain menanggapi usul tersebut dengan pertanyaan pula. Don't you think that Bandung is too far and expensive? Do you know how much money we need to go to Bali? dan seterusnya.

Estafet writing. Guru meminta siswa membentuk kelompok berlima. Dalam satu kelompok, semua anggota menyiapkan kertas dan bolpoin yang berbeda warna tinta. Tiap siswa membuat satu kalimat awal di kertas masing-masing. Misalnya, Once upon a time on a Friday night, we went home late and had to pass a cemetery.

Kemudian, kertas diberikan kepada rekan di sebelahnya, yang harus melanjutkan kalimat pertama tersebut. Begitu seterusnya sampai kertas kembali ke pemilik awal. Selain menerapkan kemampuan writing, siswa dituntut membuat cerita yang mungkin diinginkan penulis pertama. Itu tantangan tersendiri. Berdasar warna tinta, guru bisa menilai tulisan siapa yang grammar-nya masih harus diperbaiki dan siapa yang sudah bisa menyusun kalimat dengan lebih baik.

English journal. Guru meminta kelas menyiapkan buku besar yang disediakan untuk siapa saja yang ingin menulis atau sekadar menempel gambar atau foto, tentu minimal disertai satu kalimat dalam bahasa Inggris. Siswa bisa mengisinya kapan saja, semacam hand-written blog, bisa tentang curhat, ide, atau keluhan dalam bahasa Inggris. Tiap minggu, guru memeriksa siapa yang sering menulis dan memberikan feedback serta memberikan reward berupa poin tambahan.

Test your logic. Aktivitas ini membantu reading skill siswa. Guru memberikan serangkaian teka-teki dalam bahasa Inggris secara tertulis dan siswa diminta menemukan jawaban dengan membaca dengan teliti dan pastinya berpikir logis. Misalnya, (a) Ten people were sheltering under one umbrella but none of them got wet. Why? (b) If a dog is tied to a rope fifteen metres long, how can it reach a bone thirty metres away? Guru bisa mendapatkan rangkaian teka-teki itu di buku Pair Work by Peter Watcyn-Jones atau internet.

Yang diajarkan dalam bahasa Inggris memang selalu sama, yakni reading, vocab, grammar, tenses, dan sebagainya. Yang membedakan adalah kemasannya. Di sinilah dibutuhkan guru yang termotivasi untuk memotivasi siswa. Your energy in the classroom affects the energy of your students in the classroom. Your motivation to teach English affects the motivation of your students to learn English. (soe)

Sumber: Jawapos, Sabtu, 07 Maret 2009

Menjadi Guru yang Dirindukan Siswa

Oleh Winarsih, Kepala SMP Islam Al-Azhar Kelapa Gading, Surabaya

Istilah guru bisa diartikan digugu lan ditiru (dipercaya dan diteladani). Artinya, sosok guru sangat dipercaya oleh siswa dan segala perilaku guru dicontoh anak didiknya. Dalam pengertian itu, seorang siswa selayaknya mematuhi apa yang dikatakan dan diperintah guru.

Kenyataannya, yang demikian itu tidak selalu terjadi. Kondisi siswa yang heterogen sangat memungkinkan terjadinya suasana yang kurang bisa diharapkan.

Dalam satu kelas, ada beberapa tipe siswa. Ada, misalnya, tipe siswa yang sangat patuh. Tipe siswa inilah yang sering diharapkan pendidik. Guru tidak akan dibuat pusing oleh siswa tipe ini. Seandainya semua siswa dalam kelas termasuk tipe ini, alangkah tertibnya kelas dan betapa membahagiakan kondisi seperti itu.

Namun, dalam kelas hampir selalu ada siswa tipe lain. Yakni, siswa tipe tidak patuh dan sulit diatur. Dengan kehadiran siswa tipe tersebut, tidak mudah bagi seorang guru untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang nyaman.

Keberadaan dua tipe siswa yang bertolak belakang tersebut menciptakan perbedaan psikologis, khususnya kondisi emosi, guru terhadap siswa. Jika guru mengajar siswa tipe pertama, suasana hati guru senang. Sebaliknya, jika akan mengajar kelompok siswa tipe kedua, guru akan merasa terbebani. Bahkan, tak jarang guru merasa berat hati mengajar kelompok siswa tipe tersebut.

Kondisi begitu ternyata memengaruhi metode pembelajaran terhadap siswa. Guru cenderung memilih metode pembelajaran yang kurang sistematis. Sebab, guru berpikir percuma menerapkan metode pembelajaran yang tertuang dalam RPP. Akibatnya, penyampaian materi jadi amburadul dan tidak sistematis. Dampaknya, siswa tidak memperoleh pengalaman belajar sebagaimana yang diinginkan guru setelah proses mengajar.

Jika kondisi begitu dibiarkan, apalagi kalau sampai menjadi model pembelajaran si guru, bisa dipastikan siswa tidak akan belajar. Siswa akan bosan dan ujung-ujungnya tidak menyukai si guru dan pelajaran yang diajarkannya.

Padahal, bila siswa tidak menyukai pelajaran, sulit diharapkan mereka berprestasi dalam pelajaran tersebut. Demikian pula, jika siswa tidak menyukai guru, jangan harap mereka berdisiplin saat si guru mengajar. Guru akan kian sulit mengelola kelas. Suasana kondusif untuk belajar akan kian sulit diciptakan.

Kalau sudah begitu, tak jarang guru akan mengambil jalan kekerasan. Bisa marah, memukul, membanting pintu, bahkan keluar dari kelas. Jika itu terjadi, bukan suasana kondusif yang muncul, tapi kebencian siswa terhadap guru kian menumpuk. Doa buruk mungkin akan dilontarkan siswa terhadap gurunya dalam kondisi tersebut. Bahkan, mungkin saja guru akan dikeroyok siswa, dilaporkan ke polisi, dan lain-lain.

Tentu, yang begitu tidak seharusnya terjadi. Pertanyaannya, bagaimana solusinya? Sebagai guru, kita harus siap menghadapi segala tipe siswa dalam kelompok siswa yang heterogen. Kita harus menyadari bahwa siswa adalah individu yang unik. Siswa mungkin tidak mengerti apa yang harus mereka lakukan. Gurulah yang harus menciptakan kondisi agar siswa mengerti apa yang harus mereka lakukan. Di sinilah peranan penting pemilihan metode pembelajaran yang tepat.

Kian kreatif guru memilih metode pembelajaran tiap kali menyampaikan materi, kian kecil kemungkinan siswa bosan mengikuti pelajaran. Guru akan lebih mudah menciptakan suasana kondusif dan siswa akan lebih mudah dikondisikan. Pengelolaan kelas akan berjalan dengan baik. Dampaknya, siswa akan belajar setelah guru mengajar.

Jika hal itu sudah tercipta, kita akan lebih mudah menaklukkan siswa. Siswa akan merindukan kehadiran guru di kelas. Siswa akan haus materi pelajaran yang dibawakan si guru. Bisa dibayangkan, betapa indah saat kita berada di posisi guru yang dirindukan siswa. (soe)

Sumber: Jawapos, Kamis, 05 Maret 2009

Wajib Belajar Sendiri Tiada Henti

Oleh: Yuddo Suswanto, Guru SMPN 2 Senduro, Lumajang

Guru dituntut menguasai ilmu pengetahuan yang lebih luas. Terutama, berkaitan dengan mata pelajaran yang dipegangnya. Kalau tidak, pada saat tertentu, anak-anak didiknya akan melambaikan tangan seraya mengatakan, ''Sorry... aku duluan ya my teacher. Tak mungkin aku menunggumu yang tak mau berinovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Engkau hanya bisa membelajari dan memberikan tugas agar jawabannya diketik dengan komputer atau dicari di internet. Sedangkan Engkau sendiri mengoperasikan komputer belum tahu.''

Sebagai tenaga profesional, guru harus bisa menjadi seorang manajer terlatih yang memiliki kemampuan mengelola sumber-sumber belajar. Untuk itu, guru harus terus belajar dan mau mengembangkan diri dan profesi dengan rasa enjoy serta ikhlas untuk masa depan anak-anak didiknya. Belajar yang dimaksud bukan hanya pada sekolah formal, tetapi mampu berinteraksi secara luas dan optimal dengan apa yang ada di sekitarnya -termasuk dengan diri sendiri.

Proses interaksi akan diikuti perkembangan aspek intelektual, emosional, dan spiritual. Lebih-lebih berkaitan dengan mata pelajaran yang dipegangnya, hendaknya terus dioptimalkan. Hal tersebut dapat memperluas dan memperkaya perbendaharaan kontekstual dalam proses pembelajaran. Dalam prosesnya, itu akan lebih merangsang pengembangan strategi berpikir selain memudahkan daya ingat anak dalam mengingat informasi (Vernon A. M. dalam Godon Dryden, 2003).

Ilmu sebagai karunia Allah sangat luas. Karena itu, katakanlah, ''Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan sebanyak itu pula,'' (Q.S. 18:109).

Memahami ayat tersebut terungkap bahwa alam semesta merupakan pusat sumber belajar. Alam semesta menjadi perpustakaan dan kamus belajar bagi manusia. Jadi, sosok guru menjadi hebat jika bisa memanfaatkan perpustakaan dan kamus itu secara maksimal. Ketika hal tersebut benar-benar terjadi dan guru menjadi orang-orang berbakat yang hebat atas profesinya, bukan berarti mereka bisa membuat semuanya menjadi hebat. Kehebatan membangun diri dan komunitasnya memerlukan tanggung jawab dan kejujuran.

Apa yang tersedia di sekitar kita adalah media belajar yang dapat dimanfaatkan seoptimalnya untuk membelajari anak didik. Guru harus bersepakat eksistensi belajar sepanjang hayat. Eksistensi itu merupakan pintu utama membelajari dan mengembangkan anak didik hingga menjadi orang-orang hebat dan bertanggung jawab serta jujur.

Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, penggunaan internet dan ponsel akan menjadi bagian kebutuhan pokok dalam proses pembelajaran. Untuk itu, pengenalan dan pembelajaran internet sangatlah penting. Menghadapi perkembangan tersebut, mulai sekarang rekan guru hendaknya berupaya keras mau belajar mengoperasikan alat-alat itu. Kemudian, mengajak anak didik menikmati dunia melalui internet. (oki)

Sumber: Jawapos 08/03/2009