web 2.0

Senin, 09 Maret 2009

Menghadapi Siswa Generasi Platinum

Oleh: Saiful Anwar, Guru SDN Sukapura 1, Probolinggo

Menapaki 2009, dunia pendidikan dihadapkan pada tantangan yang kian variatif dan kompleks. Salah satunya, tantangan kreativitas mendidik dan mengajar dengan hadirnya generasi platinum di kelas-kelas awal SD.

Generasi platinum adalah label yang diberikan para ahli pendidikan untuk anak yang lahir setelah 2000 (sekarang berusia 7-9 tahun, kelas 1-3 SD). Mereka memiliki karakteristik lebih ekspresif dan eksploratif dibandingkan generasi sebelumnya pada usia yang sama. Sebab, siswa generasi platinum memiliki akses informasi sangat luas, fasilitas hidup lebih lengkap, dan masyarakat teknologi informasi yang lebih terbuka (Alzena Masykouri: Jawa Pos 15/1/2008).

Hasil penelitian bertajuk Kids and Consumer Electronics Trends III 2007 juga menyimpulkan, anak-anak mulai berinteraksi dengan televisi, komputer, dan peralatan elektronik lain pada usia 7 tahun. Bahkan, ada yang mulai memakai perangkat tersebut pada usia 4 dan 5 tahun.

Bagi pendidik, kehadiran siswa generasi platinum memunculkan tantangan kreativitas khusus untuk menyelenggarakan pembelajaran sesuai karakteristik mereka. Guru harus menanggalkan paradigma bahwa dirinya satu-satunya sumber belajar bagi siswa. Siswa generasi platinum jangan dianggap anak kecil yang tidak tahu atau tidak bisa apa-apa. Sebab, mereka aktif belajar mencari pengetahuan atau jawaban dari berbagai sumber belajar.

Namun, mereka bukan tidak punya kekurangan.Kekurangan yang cukup menonjol, antara lain, minimnya kecakapan hidup (life skill), seperti berempati, bersosialisasi, dan pemecahan masalah (problem solving) dalam situasi nyata sehari-hari. Sikap dan perilaku mereka juga sering tidak sesuai dengan etika di masyarakat. Itu disebabkan banyaknya informasi dari media cetak dan elektronik yang menyesatkan dan tidak sesuai untuk usia mereka.

Bertolak dari keunggulan dan kelemahan tersebut, guru perlu memahami dan melakukan hal-hal berikut.

Mendidik dengan kasih sayang. Kemampuan intelektual (IQ) siswa yang relatif tinggi dan kurangnya komunikasi personal di keluarga menjadikan tingkat emosional (EQ) mereka labil. Kasih sayang tulus guru akan sangat menentukan keberhasilan pembelajaran.

Multimedia, metode, dan model pembelajaran. Penggunaan berbagai media pembelajaran akan menjadikan siswa lebih aktif dan kreatif mengikuti kegiatan belajar. Media elektronik yang dipadukan dengan media konvensional dari alam akan menarik minat siswa. Metode pembelajaran juga diusahakan bervariasi. Selain ceramah dan tanya jawab, perlu diusahakan metode diskusi sederhana, wawancara, demonstrasi, dan eksperimen. Model-model pembelajaran yang disarankan para ahli (mulai model interaksi sosial, modifikasi tingkah laku, berpikir kreatif, hingga quantum teaching) juga perlu kita coba setelah disesuaikan dengan kondisi sekolah.

Siswa sebagai mitra belajar. Kemampuan siswa mendapatkan informasi dari berbagai sumber menjadikan guru bukan satu-satunya sumber belajar siswa. Bisa jadi siswa mengetahui informasi baru lebih dahulu daripada guru. Dengan demikian, guru harus memosisikan diri sebagai fasilitator dan siswa sebagai mitra belajar. Selanjutnya, guru dan siswa sama-sama belajar.

Program kecakapan hidup dan pemecahan masalah. Interaksi langsung siswa dengan lingkungan alam dan sosial di sekitarnya sangat kurang. Sebab, waktu mereka banyak terpakai di depan perangkat elektronik, seperti televisi, video game, monitor komputer. Hal tersebut menjadikan mereka kurang memiliki life skill dan sulit memecahkan masalah sehari-hari. Untuk itu, guru perlu secara berkala melaksanakan program kecakapan hidup dan pemecahan masalah nyata, seperti kegiatan berkebun (agro), kemah pendidikan, lomba keterampilan, eksplorasi alam (out bound).

Bimbingan Religi. Keberhasilan hidup seseorang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan intelektual (IQ), tetapi juga kemampuan mengendalikan emosi (EQ) dan kecakapan spiritual keagamaan (SQ). Siswa generasi platinum harus dibekali tiga unsur tersebut agar proses pendewasaan mereka berjalan seimbang dan selalu berada pada rel kebenaran. (soe)

Sumber: Jawa Pos, Senin, 09 Maret 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar