Kehadiran sekolah asing di Indonesia tidak bisa dielakkan. Fenomena ini merupakan konsekuensi logis dari adanya arus globalisasi. Di era seperti ini, satu hal yang menjadi barang mahal adalah daya kompetitif. Aspek ini menjadi faktor dominan dalam menghadapi persaingan global di berbagai bidang kehidupan, termasuk pendidikan. Hanya sekolah yang memiliki nilai dan daya kompetitif tinggi yang bisa bertahan.Harus diakui, kualitas pendidikan dan SDM kita masih kalah dengan sekolah atau SDM asing seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand. Bahkan, kita masih di bawah Vietnam.
Gencarnya promosi sekolah atau perguruan tinggi asing ke Indonesia bisa dianggap cermin rendahnya kualitas pendidikan domestik kita. Karena itu, promosi sekolah asing mestinya dijadikan tantangan dan motivasi bagi sekolah domestik untuk melakukan perubahan dan perbaikan kualitas pendidikan sehingga bisa bersaing.
Saat ini yang harus kita garap serius adalah perubahan dan perbaikan kualitas pendidikan. Lahirnya kualitas pendidikan sangat dipengaruhi dua aspek. Yakni, sistem (pendidikan) dan manusia. Pembangunan sistem dan manusia harus sejalan atau sinergis. Pembangunan dua aspek itu harus dilandasi nilai dan daya jual yang unggul dan kompetitif.
Selama ini, sistem pendidikan kita masih dalam konteks transfer of knowledge belum pada tataran transfer of values. Akibatnya, produk-produk pendidikan kita hanya menghasilkan manusia-manusia yang berpengetahuan. Praktis, pendidikan kita tak punya nilai kompetitif.
Di sisi lain, pendidikan juga membelenggu kita dalam realitas-realitas yang dikonstruksi negara sebagai penguasa tunggal. Para konsumen pendidikan tidak pernah dihadapkan pada ruang argumentatif. Mereka lebih dihadapkan pada situasi yang monologis dan top down. Bahkan, pendidikan sering tidak senapas dengan realitas sosial masyarakat.
Untuk itu, pendidikan harus mulai membangun relasi sosial dengan perkembangan masyarakat, baik lokal maupun global. Dengan demikian, pendidikan benar-benar bisa menjadi jawaban atas kebutuhan manusia dan masyarakat global. Pendidikan harus menjadi media pencerahan yang dialogis, konstruktif, dan mampu menghasilkan SDM yang tidak hanya memiliki tingkat intelektual dan keterampilan, tapi juga moralitas dan nilai kompetitif yang unggul.
Paradigma think globally, act locally harus menjadi pijakan dalam pengembangan sistem pendidikan kita ke depan. Keterbelakangan pendidikan kita antara lain disebabkan kita tak pernah membuka mata dan jendala dunia untuk mencari sesuatu yang baru dan inovatif serta positif bagi pengembangan kualitas pendidikan. Sikap dan budaya konservatif masih tumbuh dalam diri dan institusi pendidikan kita, sehingga kita sulit berkembang dan maju.
Berpikir global berarti kita dituntut berwawasan luas dan terus mencari gagasan dan terobosan baru dalam pengembangan pendidikan yang berkualitas. Itu tidak dibatasi ruang dan waktu. Pengetahuan, ilmu, dan pikiran global konstruktif tersebut kita implementasikan dalam tindakan lokal di lingkungan pendidikan masing-masing.
Kita harus mulai berbenah dan berubah, baik dalam berpikir, bersikap, dan bertindak. Diharapkan muncul SDM-SDM yang berdaya guna, berkualitas, dan bernilai kompetitif tinggi yang siap bersaing dengan SDM atau sekolah asing. (soe)
Sumber: Jawa Pos, Rabu, 18 Maret 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar